Langsung ke konten utama

Perdebatan Tuhan, Mesias, dan Kitab Suci: Dialog Islam–Yahudi Ungkap Perbedaan Besar Antara Yudaisme, Kristen, dan Islam

Perdebatan konsep Tuhan dan Mesias antara Yudaisme, Kristen, dan Islam mengungkap perbedaan besar dalam kitab suci dan teologi. (pinterest)

Perdebatan Tuhan, Mesias, dan Kitab Suci: Dialog Islam–Yahudi Ungkap Perbedaan Besar Antara Yudaisme, Kristen, dan Islam

 - Perdebatan teologis antara agama besar dunia kembali menjadi sorotan setelah sebuah diskusi panjang membahas perbedaan konsep Tuhan dan Mesias antara Yudaisme, Kristen, dan Islam. Dialog tersebut menyinggung akar kitab suci, konsep keselamatan, hingga klaim tentang kedatangan Mesias yang masih menjadi perdebatan hingga saat ini.

Dalam diskusi itu dijelaskan bahwa konflik pemahaman teologis terutama terjadi antara agama Yahudi dan Kristen. Penyebab utamanya adalah perbedaan dalam memahami konsep ketuhanan, keselamatan, serta figur Mesias. Hal ini menjadi menarik karena kitab suci Kristen sebagian besar mengambil sumber dari kitab Yahudi atau Perjanjian Lama.

Kitab Perjanjian Lama sendiri berasal dari teks Yahudi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani melalui karya yang dikenal sebagai Septuaginta. Dari sinilah kemudian banyak bagian kitab Yahudi digunakan oleh tradisi Kristen sebagai dasar teologi mereka.

Namun sejumlah kalangan Yahudi menilai bahwa banyak interpretasi Kristen tidak sesuai dengan makna asli teks tersebut.

Konsep Tuhan dalam Yudaisme dan Islam

Salah satu pembahasan utama dalam diskusi tersebut adalah konsep ketuhanan dalam Yudaisme. Dalam tradisi Yahudi, Tuhan dipandang sebagai entitas yang sepenuhnya transenden dan tidak mungkin menjelma menjadi manusia.

Pandangan ini juga sejalan dengan konsep ketuhanan dalam Islam yang menegaskan bahwa Tuhan tidak menyerupai makhluk apa pun.

Dalam kitab Taurat, nama Tuhan sering disebut melalui istilah tetragrammaton yang terdiri dari empat huruf Ibrani: YHWH. Dalam praktik Yahudi, nama tersebut tidak diucapkan secara langsung dan biasanya diganti dengan sebutan seperti “Hashem” yang berarti “Nama”.

Diskusi tersebut juga menyinggung bahwa dalam berbagai bahasa Semitik terdapat kesamaan istilah untuk menyebut Tuhan. Misalnya dalam bahasa Arab digunakan kata “Allah”, sedangkan dalam tradisi Ibrani terdapat berbagai gelar Tuhan seperti El, Elohim, atau Elyon.

Kesamaan istilah tersebut sering dianggap sebagai bukti bahwa ketiga agama Abrahamik memiliki akar konsep ketuhanan yang serupa.

Alasan Yahudi Boleh Masuk Masjid

Dialog tersebut juga membahas praktik ibadah yang menarik dalam hubungan antara agama Yahudi dan Islam.

Menurut penjelasan seorang tokoh Yahudi dalam diskusi itu, umat Yahudi diperbolehkan masuk ke masjid jika tidak menemukan sinagoga untuk beribadah.

Hal ini karena dalam pandangan mereka, masjid tidak memiliki unsur penyembahan berhala. Dalam tempat ibadah Islam tidak terdapat patung atau gambar yang dijadikan objek penghormatan.

Komentar